Neo

Modern Recipe of Cassava 9-12

Poffertjes singkong

bahan:

100 gram tepung terigu
100 gram singkong parut
1 sendok teh ragi instan
1 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
2 butir telur
200 ml susu
50 gram margarin, dilelehkan

cara membuat:

  • Aduk rata tepung terigu, singkong, ragi, gula, garam, dan telur. Tuang susu sambil diaduk rata. Diamkan 15 menit.
  • Tambahkan margarin leleh, aduk rata.
  • Panaskan cetakan poffertjes. Oles dengan margarin. Tuang adonan ke dalamnya. Biarkan setengah matang. Balik adonan lalu biarkan matang.

untuk 25 buah

----------------------------

Skotel singkong

bahan:

200 gram singkong, diparut kasar
1 sendok teh garam
1/2 sendok merica bubuk
4 butir telur
200 ml susu cair
2 sendok makan saus tomat
3 buah sosis, dipotong 1 cm
50 gram kacang polong
75 gram keju cheddar, diparut untuk taburan

cara membuat:
  • Aduk semua bahan sampai rata.
  • Tuang ke dalam pinggan tahan panas yang dioles margarin.
  • Taburkan keju cheddar lalu oven sampai matang.

untuk 6 porsi

-----------------------

Mousse coklat singkong

bahan:

100 gram singkong kukus, dihaluskan
250 ml susu cair
30 gram tepung maizena
1/4 sendok teh garam
150 gram gula pasir
25 gram cokelat bubuk
1 kuning telur
500 ml krim kental
cara membuat:
  • Rebus singkong, susu, tepung maizena, garam, gula, dan cokelat bubuk sambil diaduk hingga meletup-letup.
  • Tambahkan kuning telur, aduk rata hingga meletup-letup. Angkat dan dinginkan.
  • Kocok krim kental sampai kaku. Tambahkan campuran singkong sedikit-sedikit sambil dikocok rata.
  • Tuang ke dalam gelas. Diamkan dalam lemari es selama 1 jam. Sajikan dingin.
untuk 8 porsi

---------------------------

Puding singkong

bahan I:

200 gram singkong kukus, dihaluskan
1.000 ml susu
150 gram gula pasir
2 bungkus agar bubuk
1/4 sendok teh garam

bahan II:
300 gram fruit koktil siap pakai
600 ml air
125 gram gula pasir
1 bungkus agar bubuk

cara membuat:
  • Rebus bahan I sambil diaduk hingga mendidih.
  • Tuang adonan ke dalam loyang kotak 22x22x7 cm lalu bekukan.
  • Rebus bahan II sambil diaduk hingga mendidih. Tuang ke atas bahan I. Bekukan.
  • Setelah beku, potong-potong lalu sajikan.
untuk 15 potong

Read More......

Food processing (Cassava)

Keripik Renyah Ubi Kayu (Cassava)

PENDAHULUAN
Keripik renyah ini merupakan keripik ubi kayu yang berstektur lebih renyah dari keripik sanjai. Pembuatan keripik ini lebih rumit dibanding keripik sanjai. Berbeda dengan keripik sanjai, semua jenis ubi kayu dapat dijadikan keripik renyah. Umbi diiris,kemudian direndam didalam larutan kapur, kemudian direbus, dikeringkan dan terakhir digoreng. Tekstur keripik yang renyah diperoleh karena proses perebusan dan pengeringan. Keripik ini biasanya diberi bumbu garam, dan bawang putih.

BAHAN

  1. Umbi Ubi kayu.
  2. Kapur sirih.
  3. Garam.
  4. Bawang putih.

PERALATAN
  1. Alat Pengiris.
  2. Pisau dan talenan.
  3. Baskom.
  4. Panci.
  5. Wajan..
  6. Tungku kayu atau kompor.
  7. Peniris.
  8. Kantung plastik.
  9. Sealer listrik.

CARA PEMBUATAN
  1. Umbi diiris tipis, kemudian segera direndam di dalam larutan kapur jenuh selama semalam (12-24 jam). Larutan kapur jenuh dibuat dengan melarutkan kapur sirih sedikit demi sedikit sambil melakukan pengadukan di dalam 100 liter air sampai ada sedikit dari kapur yang dapat larut. Perendaman akan mengurangi kandungan asam sianitrat (HCN) umbi, permukaan irisan lebih putih, dan tekstur lebih lama. Setelah perendaman, irisan umbi dibilas dengan air bersih, kemudian ditiriskan.
  2. Sementara itu disiapkan air mendidih yang telah dibumbui (setiap 1 liter air ditambah dengan garam 1 gram dan bawang putih 20 gram). Ke dalam air mendidih ini dimasukkan irisan umbi. Tiga menit kemudian irisan harus segera dikeluarkan dan ditiriskan.
  3. Irisan umbi dijemur atau dikeringkan dengan alat pengirng sampai kadar air dibawah 15% dengan tanda berbunyinya irisan jika dipatahkan.
  4. Irisan umbi yang telah kering dapat disimpan sebelum digoreng, atau langsung digoreng. Dianjurkan irisan digoreng di dalam banyak minyak panas.
  5. Keripik yang telah digoreng ditiriskan sampai dingin, kemudian disimpan pada tempat tertutup rapat, atau dikemas didalam kotak karton.

KONTAK HUBUNGAN
Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat, Jl. Rasuna Said, Padang Baru, Padang, Telp. 0751 40040, Fax. 0751 40040
Sumber : Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat

Read More......

Cassava in Sumatra island

KERIPIK SANJAI

Selain dikenal dengan Nasi Kapau-nya, ada oleh-oleh khas Sumatera Barat yang sering dicari para pendatang, yaitu Kripik Sanjai. Salah satu toko kripik yang terkenal adalah Kripik Sanjai Mintuo. Pemiliknya Ny. Mintuo.

Setelah dingin, singkong goreng ini diolesi dengan bumbu yang rasanya manis, pedas, dan agak lengket. Selain menjual Kripik Sanjai yang panjang-panjang, ada juga Kripik Sanjai yang bentuknya lingkaran. Untuk rasanya juga lebih bervariasi dibandingkan dengan Kripik Sanjai yang original. Bumbu olesannya terdapat rasa tawar, asin, serta pedas dan manis.

Sehari Kripik Sanjai Mintuo bisa menghabiskan 150 kilogram singkong dan 80 kilogram minyak goreng seharinya. Meski tak bersedia menyebutkan penghasilannya per hari, namun ia mengatakan penghasilannya sudah bisa menyekolahkan 6 anaknya menjadi sarjana. Oleh-oleh Kripik Sanjai adalah buah tangan yang paling laku, selain rasanya enak, juga tahan lama.

KRIPIK BALADO

Kripik Balado yang paling top di Bukittinggi adalah buatan Christin Hakim. Kripik balado ini hampir mirip dengan Kripik Sanjai, hanya bedanya serutan singkong Kripik Balado lebih tipis dan bumbunya ditumis dahulu baru singkong goreng dimasukkan. Jadi bumbunya benar-benar meresap. Kripik Balado Christin Halim ini sudah ada sejak 11 tahun yang lalu. Dahulu Christin tinggal di lorong, tapi makin lama usahanya makin sukses dan mampu memiliki 2 buah kios dengan 6 orang karyawan.

Menjelang Lebaran, Christin mampu menjual 200 kilo kripik per hari. Itu pun sudah melewati pemesanan jauh hari sebelumnya. Tapi pada saat hari biasa, kripik yang terjual hanya sekitar 100 kilo saja sehari. Selain menyediakan Kripik Balado, ada juga makanan kecil lain yang dijadikan favorit baru, yaitu kacang Tojin (kacang bawang dengan cincangan daun seledri).

Read More......

Getuk Goreng

Getuk goreng adalah penganan khas Sokaraja
Manis dan gurih
Dibuat dari singkong (Cassava)
Dibumbui gula kelapa

Penganan yang dibuat dari ketela Pohon/singkong/cassava ini mulanya dibuat seperti membuat getuk pada umumnya. Penganan dari Sokaraja ini yakni ketela yang sudah menjadi adonan getuk dan digelar di atas meja besar. Bila sudah dingin, adonan setebal 3-5 cm yang digelar di atas meja itu dipotong-potong dalam ukuran kecil, baru digoreng.

Setelah jadi, getuk tersebut ditumpuk di atas meja atau dikemas dalam besek berukuran kecil. Satu besek berisi setengah kilogram getuk goreng, berisi hingga 50 butir.

Before...
Getuk goreng ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1918 oleh Sanpirngad, seorang penjual nasi keliling di daerah Sokaraja. Pada saat itu getuk yang dijual tidak laku, sehingga beliau mencari akal agar getuk tersebut masih bisa dikonsumsi. Kemudian, getuk yang tidak habis dijual pada hari itu dia goreng dan dijual lagi. Ternyata, makanan baru tersebut digemari oleh para pembeli.

Rasa cemilan baru ini pas bagi lidah masyarakat Banyumas waktu itu. Tak sedikit pejuang kemerdekaan yang mampir ke warung Sanpirngad, sampai akhirnya produknya dikenal banyak orang.

Oleh Sanpirngad, warung tersebut diwariskan kepada Tohirin, menantunya. Di tangan Tohirin, getuk goreng mencapai masa puncak. Ia mampu mengubah sebuah warung nasi rames menjadi tiga buah toko getuk goreng di Sokaraja. Oleh anak cucu Tohirin, tiga toko itu dikembangkan lagi sampai akhirnya menjadi sembilan buah toko, delapan di antaranya di Sokaraja dan satu toko di Buntu Banyumas.

Di luar dinasti Tohirin, mereka pun mendirikan pusat-pusat jajanan khas Purwokerto dengan menu utama getuk goreng. Rasa manis getuk goreng telah memikat ribuan orang. Karena itu pada masa menjelang dan sesudah lebaran tak sedikit pemudik yang menyempatkan diri mampir untuk membeli makanan ini sebagai oleh-oleh.

After...
Saat ini getuk goreng dapat dengan mudah ditemui di sepanjang jalan di Sokaraja. Getuk yang digoreng juga bukan lagi getuk yang tidak laku dijual, melainkan sengaja dibuat untuk digoreng.

TERLETAK sekitar 7 km timur Kota Purwokerto, kota kecil ini dikenal sebagai pusat jajanan. Sokaraja, demikian nama kota ini terletak di jalur utama Purwokerto-Semarang dan Purwokerto-Yogyakarta. Di kanan kiri sepanjang kota ini bisa dijumpai toko memajang berbagai jenis penganan khas Banyumas, terutama getuk goreng sokaraja.

Sebagai kota asal getuk goreng, di Sokaraja sekarang terdapat puluhan toko penjual getuk goreng. Ada getuk goreng asli H Tohirin yang mendominasi penjualan jajanan ini karena tokonya lebih dari 6 buah. Ada pula getuk goreng Sari Murni, Lestari, Aroma, Eka Sari, dan Asri. Di luar Sokaraja, makanan ini juga dijual seperti di perempatan Buntu.

Pada saat menjelang dan sesudah Lebaran, toko penjual getuk goreng akan ramai pembeli. Karena itu saat ini penjualan makanan ini masih sepi mengingat pemudik belum banyak terlihat. Hal itu juga tampak di toko getuk goreng Asli 1 dan Asli 7 di Jl Jenderal Soedirman Sokaraja yang dikelola H Mahdori, salah satu anak H Tohirin, kemarin belum begitu ramai.

Kebanyakan orang membeli getuk goreng dan penganan khas lainnya ini untuk oleh-oleh. Jarang sekali getuk goreng Sokaraja dipasarkan atau dikirim ke luar daerah seperti produk lain. Hal ini disebabkan makanan khas dari ketela ini tak tahan lama.

Getuk goreng sangat potensial dijadikan komoditas unggulan. Persoalannya, produk panganan ini pemasaran dan distribusinya belum berjalan. Sebab produsen hanya mengandalkan pembeli yang datang ke tokonya.

Getuk goreng memang tak bisa tahan lama, paling hanya tujuh hari. Karena itu perlu ada inovasi agar getuk goreng bisa berkembang pesat dan berdaya saing tinggi dengan penganan khas daerah lain.

Sebenarnya makanan ini sudah dikenal di berbagai kota. Terutama, melalui agen-agen travel tujuan Bandung, Jakarta, Semarang, dan kota lain. Agen travel tersebut saat lewat Sokaraja menyempatkan mampir dan penumpangnya membeli oleh-oleh khas Sokaraja itu.

Jumlah pembeli getuk goreng selama arus mudik dan balik lebaran biasanya meningkat pesat. Selain pemudik, tidak sedikit wisatawan domestik yang datang ke Sokaraja sengaja mencari getuk goreng. Dalam sehari getuk goreng yang terjual 1,5 kuintal.

Read More......

Ketimus / Lemet

Bahan:
500 gr singkong
200 gr gula merah
1 sdt garam
1/4 btr kelapa setengah tua, kupas, potong-potong kecil
3 bh pisang raja, potong-potong kecil
daun pisang

Cara membuat:
Kupas singkong, cuci bersih, parut, campur dengan gula merah dan garam, aduk rata.
Tambahkan potongan kelapa dan pisang, aduk rata.
Ambil selembar daun pisang, taruh 2 sdm adonan, bungkus seperti lontong, semat kedua ujungnya, kukus sampai matang selama lebih kurang 30 menit.

Untuk 20 bks

Read More......

The Cassava Molecular Deversi Network (MOLCAS)

In its five years of existence, MOLCAS has begun a process of systematically studying germplasm resources in cassava towards the exploitation of useful variability and increasing crop productivity, especially with small farmers who are the majority of cassava growers in mind.

For further information contact: Martin Fregene

The hundreds of thousands of cassava land races held by farmers in Latin America, Africa and Asia are the results of thousands or hundreds of years of evolution and natural selection, and are an invaluable resource for the future. However collecting using them in a systematic way to increase the crop's productivity and to protect the future harvest is a task beyond any particular organization or country. The cassava molecular diversity network (MOLCAS) seeks to collect and characterize using molecular markers cassava land races in Africa and Latin America by supporting its members with tools, funds and relevant existing information. The network, funded by the International Chemical Sciences Program (IPICs), University of Uppsala, comprises of scientists drawn from institutes in Malawi, Uganda, Ghana, Tanzania, Nigeria, Brazil, Sweden, Peru, Colombia, France, and the USA.

The goal of MOLCAS remains to enhance the productivity of cassava by:

  1. Collection and molecular marker study of genetic variation of cassava land races.
  2. Elucidation of the genetic diversity and differentiation of land races in Africa compared to what exists in the crop’s primary center of diversity.
  3. The exploitation of this information in systematic improvement of the crop.
  4. Build capacity in the sub Saharan region for molecular diversity assessment and interpretation.

The network achieves its objectives by linking up with different national and international institutes in Africa and South America and advanced labs and universities in developed countries interested in studying the genetic diversity of cassava. Members conduct germplasm collection, molecular characterization, and field trials with cassava land races in Africa and Latin America.

Studies concluded to date by members of the network include:
  1. A SSR study of cassava land races in Northern Malawi (Bvumbwe Agricultural Research Station Malawi, SLU, Uppsala, Sweden)
  2. A SSR study of cassava land races in Southern Tanzania (CIAT, SLU, ARI Mwanza, ARI Mikocheni Tanzania)
  3. A molecular marker SSR study of cassava land races from the Amazonian basin and North Eastern coast of Brazil (ICA-Campinas, Brazil)

Ongoing studies include:
  1. SSR study of a cassava collection from the Amazonian region of Colombia (CIAT, Uni Valle Colombia)
  2. SSR study of land races in Nigeria (IITA, NRCRI Nigeria, CIAT)
  3. Test for heterotic (hybrid vigor) patterns in clusters of previous collections (CIAT).

The primary mode of disseminating the research results obtained through the network has been through refereed journal papers and MOLCAS workshops held bi-annually. However to improve access to data from the germplasm studies consideration has been given to dissemination by the internet through a MOLCAS web site.

Read More......

Cassava mosaic disease

Researchers have used genes from a virus that periodically devastates cassava crops in Africa to create cassava plants that can resist the virus. The finding could save African farmers large economic losses.

African cassava mosaic virus is transmitted to cassava by whiteflies when they feed on the plant. In parts of East and Central Africa, epidemics of the disease can lead to total losses of harvests.

So far, the only way to fight the virus is by using massive doses of insecticide to kill whiteflies. But this can be prohibitively expensive for subsistence farmers and can threaten their health and that of surrounding plants and animals.

Now, Peng Zhang and colleagues at the Swiss Federal Institute of Technology in Zurich have used the virus's own genetic material as a weapon against it.

Three genes are essential for the virus to replicate. Each of these carries the code for a piece of RNA, a kind of genetic material similar to DNA.

RNA can be inactivated when a matching strand binds to it. Knowing the structure of the gene that makes the RNA allows researchers to create matching genes.

This is exactly what Zhang's team did. They created 'matching' genes for the three crucial strands of RNA and inserted these into cassava plants.

They expected that whenever the modified cassava cells were infected by the virus, the RNA made by the inserted genes would find and stick to the viral RNA, inactivating it and preventing the virus from replicating.

In tests, when the plants were exposed to small amounts of the virus, the researchers could see no signs of disease, suggesting their theory was verified.

With higher doses of the virus, symptoms were reduced.

Zhang told SciDev.Net that although the modified cassava plants were much more resistant to the virus, experiments under natural conditions were needed to confirm the method's effectiveness.

His research group plans to work with others in Kenya, Nigeria, the United Kingdom and United States to conduct these experiments.

Reference: Plant Biotechnology Journal

Read More......

Cassava has 'super size' roots

Scientists who have genetically modified cassava plants to produce dramatically bigger roots say their research could help alleviate hunger in developing countries.

The starchy roots of cassava are a staple food for about 600 million people in parts of Africa, Asia and Latin America.

Lead researcher Richard Sayre of Ohio State University in the United States told SciDev.Net that he hopes there will be interest in releasing the plants to Africa free of charge.

The results were published online in Plant Biotechnology Journal on 5 May.

Sayre's team inserted a bacterial gene that affects starch production into the cassava's DNA. The modified plants' roots were more numerous and up to 2.6 times bigger than in normal plants.

The modified plants also had more leaves, which are eaten in Africa as a source of protein, minerals and vitamins.

Reference: Plant Biotechnology Journal

Read More......