Neo

Bakpao Telo

Sekarang ini seharusnya kita merenung diri seberapa besar devisa negara yang dikeluarkan untuk mengimpor gandum atau terigu. Diperkirakan setiap tahun hampir 4 juta ton gandum atau terigu diimpor sebagai bahan baku pangan Indonesia untuk dibuat roti, bakmie, bakso, bakpao, dan berbagai macam kue. Dikhawatirkan impor bahan baku dari negara sub tropis tersebut cenderung mengalami peningkatan mengikuti jumlah penduduk yang semakin membengkaak dan kesadaran gizi menjadi meningkat.

Jika keadaan ini dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan pangan dari luar negeri dan meningkatnya pengeluaran devisa bagi negara sehingga dikhawatirkan terjadi kerawanan pangan. Oleh karena itu perlu adanya program keanekaragaman pangan dengan mengurangi ketergantungan pangan luar negeri, dengan cara mengurangi penggunaan bahan baku terigu atau gandum diganti beras atau umbi-umbian. Sebenarnya sudah cukup banyak bahan baku pangan yang tersedia dan dapat menjadi subtitusi atau pengganti terigu, diantaranya ubi jalar, ubi kayu, garut, dan lain-lain, di samping beras. Sebuah pekerjaan rumah (PR) bagi Badan Litbang Departemen Pertanian untuk melakukan penelitian tersebut.

Terobosan Baru Ir. Unggul Abinowo, MS, MBA yang Kontak Tani Andalan Nasional dari Kabupaten Pasuruan, Jatim merasa peduli dan prihatin terhadap kondisi pangan yang tergantung dari luar negeri. Oleh karena itu tanpa banyak bicara dirinya berhasil melakukan terobosan baru untuk mengatasi masalah tersebut dengan membuat Bakpao Telo. Bakpao yang semula bahan bakunya dari terigu dan merupakan jajanan orang Tionghoa, kini diproduksi dengan bahan baku terigu dicampur ketela atau ubi jalar, dan semua kalangan masyarakat menyenangi.

“Pembuatan Bakpao telo yang dikerjakan bekerja sama dengan LIPI mempergunakan bahan baku ketelo 60%, sedangkan terigu 40%”, kata Unggul Abinowo di Caf’e Sentra Pemasaran Agribisnis Terpadu (SPAD) yang terletak sebelah kanan jalan raya perbatasan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. SPAD ini dibangun untuk mengatasi kesulitan pemasaran hasil-hasil pertanian beseerta olahannya, sehingga memperoleh nilai tambah bagi petani di pedesaan yang hidupnya cukup memprihatinkan.

Menurut Unggul yang dikaruniai 2 orang anak dan seorang isteri, harga ubi jalar di pasar Rp. 450/kg, sedangkan terigu Rp. 2.000/kg. Dengan adanya subtitusi bahan baku terigu untuk mengolah bakpao tidak kalah bahkan lebih kenyal, sehingga banyak pengunjung yang datang ke Kompleks SPAD ikut membeli berbagai produk tersebut. Dari bahan baku ubi jalar tersebut di samping bakpao juga dibuat berbagai jenis pengolahan di antaranya mie telo, jahe telo, kripik telo dan lain-lain. Asli Semarang yang dibesarkan di Kabupaten Pasuruan Jatim, Unggul Abinowo yang berhasil menyunting gadis Purwokerto menjadi isterinya, dengan jiwa wiraswasta ini patut dibanggakan. Walaupun sekarang kurang aktif di KTNA padahal menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum, karena kesibukannya di samping berusaha tani dengan berbagai macam jenis komoditi unggulan, kini juga sedang membangun pabrik mie telo, dan tepung telo.
“Kami sudah memperoleh pesanan 10.000 ton tepung telo untuk diekspor ke Korsel”, ujar Unggul dengan bangga. Sebagai Kontak Tani yang berhasil di sampingg di rumahnya terdapat petani magang juga membina 368 Usaha Kecil Menengah. Di samping dapat menghemat devisa, usaha agribisnis ini dapat menampung tenaga kerja 150 orang baik yang bekerja di lahan usaha tani (on farm) maupun pemasaran dan pengolahan.

0 Comment: